Bertepatan hari ini, Sabtu 21 April 2018 diperingati sebagai Hari Kartini 2018.
RA Kartini adalah sosok pelopor bagi wanita yang telah berusaha untuk mengangkat derajat wanita menjadi lebih baik lagi. Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini,
(lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang,
Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Raden Adjeng Kartini adalah
seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden
Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri
pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri
dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di
Telukawur, Jepara.
RA
Kartini adalah pahlawan tanpa tanda jasa bagi para wanita di Indonesia.
Nah, berbagai cara dilakukan untuk memperingatinya mulai berkebaya
hingga memberi ucapan selamat Hari Kartini 2018
Berdasarkan biografi RA Kartini, dia adalah seorang wanita yang cukup
hebat didalam menjalani hidupnya. Dia merupakan seseorang sangat
berjasa bagi seluruh wanita di Indonesia.
Selamat Hari Kartini 2018 .
TASYAKURAN
Cerita Nabi tentang makna tasyakuran
Ketika Nabi Sulaiman a.s. mendapatkan puncak kenikmatan dunia, beliau
berkata,“Ini adalah bagian dari karunia Allah, untuk mengujiku apakah
aku bersyukur atau kufur.” (An-Naml: 40). Ketika Qarun mendapatkan harta
yang sangat banyak, dia mengatakan, “Sesungguhnya harta kekayaan ini,
tidak lain kecuali dari hasil kehebatan ilmuku.” (Al-Qashash: 78).
Dua kisah yang bertolak belakang di atas menghasilkan akhir kesudahan
yang berbeda. Nabi Sulaiman a.s. mendapatkan karunia di dunia dan
akhirat. Sedangkan Qarun mendapat adzab di dunia dan akhirat karena
kekufurannya akan nikmat Allah.
Demikianlah, fragmen hidup manusia tidak terlepas dari dua golongan
tersebut. Golongan pertama, manusia yang mendapatkan nikmat Allah dan
mereka mensyukurinya dengan sepenuh hati. Dan golongan kedua, manusia
yang mendapatkan banyak nikmat lalu mereka kufur. Golongan pertama yaitu
para nabi, shidiqqin, syuhada, dan shalihin (An-Nisa’: 69-70). Golongan
kedua, mereka itulah para penentang kebenaran, seperti Namrud, Fir’aun,
Qarun, Abu Lahab, Abu Jahal, dan para pengikut mereka dari masa ke
masa.
Secara umum bahwa kesejahteraan, kedamaian dan keberkahan merupakan
hasil dari rasa syukur kepada Allah sedangkan kesempitan, kegersangan
dan kemiskinan akibat dari kufur kepada Allah. (An-Nahl 112)
Nikmat Allah
Betapa zhalimnya manusia, bergelimang nikmat Allah tetapi tidak
bersyukur kepada-Nya (Ibrahim: 34). Nikmat yang Allah berikan kepada
manusia mencakup aspek lahir (zhaahirah) dan batin (baatinah) serta
gabungan dari keduanya. Surat Ar-Rahman menyebutkan berbagai macam
kenikmatan itu dan mengingatkan kepada manusia akan nikmat tersebut
dengan berulang-ulang sebanyak 31 kali, “Maka nikmat Tuhan yang manakah
yang kamu dustakan?”
Baca dan tadabburilah surat Ar-Rahman. Allah yang Maha Penyayang
memberikan limpahan nikmat kepada manusia dan tidak ada satu makhluk pun
yang dapat menghitungnya. Dari awal sampai akhir surat Ar-Rahman, Allah
merinci nikmat-nikmat itu.
Dimulai dengan ungkapan yang sangat indah, nama Allah, Dzat Yang Maha
Pemurah, Ar-Rahmaan. Mengajarkan Al-Qur’an, menciptakan manusia dan
mengajarinya pandai berkata-kata dan berbicara. Menciptakan mahluk
langit dengan penuh keseimbangan, matahari, bulan dan bintang-bintang.
Menciptakan bumi, daratan dan lautan dengan segala isinya semuanya untuk
manusia. Dan menciptakan manusia dari bahan baku yang paling baik untuk
dijadikan makhluk yang paling baik pula. Kemudian mengingatkan manusia
dan jin bahwa dunia seisinya tidak kekal dan akan berakhir. Hanya
Allah-lah yang kekal. Di sana ada alam lain, akhirat. Surga dengan
segala bentuk kenikmatannya dan neraka dengan segala bentuk
kengeriannya. “Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?”
Sarana Hidup (Wasa-ilul Hayah)
Sungguh Maha Agung nama Rabbmu Yang Mempunyai kebesaran dan karunia.
Marilah kita sadar akan nikmat itu dan menysukurinya dengan sepenuh
hati. Dalam surat An-Nahl ayat 78, ada nikmat yang lain yang harus
disyukuri manusia, “ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam
keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
Cobalah renungkan! Bagaimana jika manusia hidup di dunia dalam kondisi
buta, maka dia tidak dapat melihat. Seluruh yang ada di hadapannya
adalah sama. Tidak dapat melihat keindahan warna-warni dan tidak dapat
melihat keindahan alam semesta. Coba sekali lagi renungkan! Bagaimana
jadinya jika manusia hidup di dunia dalam keadaan buta dan tuli. Maka
dia tidak dapat berbuat apa-apa. Dan coba sekali lagi renungkan! Jika
manusia hidup di dunia dalam keadaan buta, tuli, dan gila. Maka hidupnya
dihabiskan di rumah sakit, menjadi beban yang lainnya. Demikianlah
nikmat penglihatan, pendengaran, dan akal. Demikianlah nikmat sarana
kehidupan (wasail al-hayat).
Pedoman Hidup (Manhajul Hayah)
Sekarang apa jadinya jika manusia itu diberi karunia oleh Allah mata
untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan akal untuk berpikir.
Kemudian mata itu tidak digunakan untuk melihat ayat-ayat Allah, telinga
tidak digunakan untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, dan akal tidak
digunakan untuk mengimani dan memahami ayat-ayat Allah. Maka itulah
seburuk-buruknya makhluk. Mereka itu seperti binatang. Bahkan, lebih
rendah dari binatang (Al-A’raf: 179).
Demikianlah, betapa besarnya nikmat petunjuk Islam (hidayatul Islam)
dan pedoman hidup (manhajul hayah). Nikmat ini lebih besar dari seluruh
harta dunia dan seisinya. Nikmat ini mengantarkan orang-orang beriman
dapat menjalani hidupnya dengan lurus, penuh kejelasan, dan terang
benderang. Mereka mengetahui yang hak dan yang batil, yang halal dan
yang haram.
Al-Qur’an banyak sekali membuat perumpamaan orang yang tidak menjadikan
Islam sebagai pedoman hidup, diantaranya digambarkan seperti binatang
secara umum dan binatang tertentu secara khusus, seperti; anjing,
keledai, kera dan babi (Al-A’raf: 176, Al-Jumu’ah: 5, Al-Anfal: 55,
Al-Maidah: 60). Diumpamakan juga seperti orang yang berjalan dengan
kepala (Al-Mulk: 22), buta dan tuli (Al-Maidah: 71), jatuh dari langit
dan disambar burung (Al-Hajj: 31) kayu yang tersandar (Al-Munafiqun: 4)
dan lainnya.
Pertolongan (An-Nashr)
Ada satu bentuk kenikmatan lagi yang akan Allah berikan kepada
orang-orang beriman disebabkan mereka komitmen dengan manhaj Allah dan
berdakwah untuk menegakkan sistem Islam, yaitu pertolongan Allah, “ Hai
orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan
menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)
Pertolongan Allah itu sangat banyak bentuknya, diantaranya perlindungan
dan tempat menetap (al-iwaa), dukungan Allah sehingga menjadi kuat
(ta’yiid), rizki yang baik-baik, kemenangan (al-fath), kekuasaan
(al-istikhlaaf), pengokohan agama (tamkinud-din) dan berbagai macam
bentuk pertolongan Allah yang lain (Al-Anfaal: 26, Ash-Shaaf: 10-13 dan
An-Nuur: 55).
Segala bentuk kenikmatan tersebut baik yang zhahir, bathin, maupun
gabungan antara keduanya haruslah direspon dengan syukur secara optimal.
Dan dalam bersyukur kepada Allah harus memenuhi rukun-rukunnya.